Epos Ramayana dalam Pementasan Wayang Listrik

140723_wayang_listrik_2-680x453

Pada 20 Juli 2014 lalu, bertempat di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, diselenggarakan pertunjukan wayang listrik yang dipentaskan oleh Sanggar Paripurna. GIK mempunyai komitmen untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia ke khalayak umum, khususnya generasi muda Indonesia, dengan mendukung–salah satunya–pertunjukan wayang listrik tersebut.

Kali ini Sanggar Paripurna dikelola oleh I Made  Sidia yang dikenal sebagai seniman wayang dan kareografer asal Gianyar Bali, menampilkan lakon dari penggalan epos Ramayana yaitu kisah “Penculikan Dewi Sita”.

Pementasan ini diawali dengan kisah Sri Rama meninggalkan negeri Ayodya untuk mengasingkan diri ke hutan bersama istrinya Sita dan ditemani oleh para pembantu setianya untuk mencari kedamaian serta menghindari adanya perpecahan dan perang  di negerinya.

Lalu selanjutnya bersama pembantu setianya Rama tinggal di hutan, serta dalam kesehariannya Rama menyusuri pelosok hutan tersebut  dan menyaksikan begitu indahnya hutan, yaitu adanya berbagai macam pepohonan nan asri dan menyejukkan jiwa, yang ditinggali berbagai jenis hewan di hutan tersebut, sehingga Rama merasakan kedamaian dan menjadi betah tinggal di hutan tersebut.

Keberadaan Rama dan Sita di hutan tersebut diketahui oleh para pembesar negeri Alengka sehingga mengundang keinginan rajanya, Rahmana, untuk merebut dan menculik Sita. Rahmana yang terbuai dengan kecantikan Sita, mencari cara untuk merebut Sita dari tangan Rama. Untuk melaksanakan hal tersebut, dia memerintahkan Maha Patihnya berubah menjadi seekor kijang emas untuk menarik perhatian Sita.

Seperti yang diniatkan, kijang emas itu berhasil memancing keingintahuan Sita. Ia bahkan berniat memeliharanya. Rama pun rela menangkap hewan tersebut untuk membahagiakan istrinya. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Rahmana untuk menculik Sita. Dengan kembali mengubah dirinya menjadi kakek tua untuk menimbulkan rasa iba, Rahmana berhasil mengelabui Sita dan memboyongnya ke Alengka.

Ketika pencarian kijang emas sedang dilakukan oleh Rama, Rama mengetahui Sita telah diculik oleh Rahmana. Dia pun memerintahkan para pembantunya untuk mencari istrinya ke Alengka. Menariknya, dalam pementasan tersebut dibumbui oleh kisah pencarian Sita melewati sebuah kota metropolis yang modern serta sudah dipenuhi hutan beton, macet, kotor, dan orang-orang tidak baik. Hal ini memberikan pesan bahwa hutan yang ditinggali Rama lebih baik karena tetap menjaga kelestarian alam dan kebaikan sikap penghuninya.

Di sisi lain, dikisahkan pula keinginan Rahmana untuk memotong sebagian besar pepohonan di negerinya untuk dijadikan tisu toilet agar bisa mendapat keuntungan besar dari industri tersebut. Akibat ulahnya tersebut, kelestarian alam menjadi terganggu.

Singkat cerita, para pembantu Rama bisa menemukan Sita. Lalu Rama pun menuju Alengka untuk menyelamatkan Sita serta memberi pelajaran pada Rahmana atas berbagai sikap buruknya tersebut. Kisah pun mencapai puncaknya saat mereka bertarung hingga Rama, melalui kesaktiannya yang mandraguna, berhasil mengalahkan Rahwana dan kembali hidup bersama Sita di hutan.

Pementasan wayang listrik ini tidak hanya disertai dengan cerita yang penuh pesan moral mendalam khas cerita pewayangan tradisional, namun juga disusupi oleh kisah perjalanan pembantu Rama dan ulah Rahmana melakukan industrilisasi dengan memberangus hutan. Tersisip pesan untuk tetap dapat menjaga kelestarian alam dan jangan terbawa nafsu untuk keuntungan sesaat.

Seperti yang disampaikan oleh I Made Sidia setelah pementasan, pementasan wayang listrik tetap berkomitmen menyampaikan cerita pewayangan tradisional yang sarat pesan moral. Yang membedakannya dengan pementasan wayang lainnya adalah penggunaan peralatan listrik, yaitu efek digital dan variasi pencahayaan yang unik.

Pementasan wayang listrik ini disaksikan oleh penonton dari dalam maupun luar negeri. Penonton sendiri didominasi oleh generasi muda. Apresiasi positif berupa tertawa membahana pada penutupan pementasan di Galeri Indonesia Kaya tersebut. Hal ini merupakan angin segar dalam pementasan wayang sehingga ke depannya diharapkan subsektor seni pertunjukan menjadi berkembang lebih baik lagi di Indonesia. http://news.indonesiakreatif.net/wayang-listrik/

Iklan

BCA Dukung UNIMA dalam Asia Pacific International Puppet and Shadow Art Week

10530668_10203336512272026_170207822309898471_n (1)

Mendukung pengenalan wayang Indonesia kepada masyarakat dunia, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberikan dukungan kepada delegasi Union Internationale de Marionette (UNIMA) Indonesia dalam kegiatan Asia Pacific International Puppet and Shadow Art Week di Nanchong, Republik Rakyat Tiongkok, pada 1-7 Juni 2014.

Bertemakan “Same Art Same Dream”, Asia Pasific International Puppet and Shadow Art Week tersebut terbagi dalam dua kegiatan utama, yaitu seminar dan pergelaran seni pertunjukan, baik di arena terbuka maupun di dalam gedung teater.

Selain Indonesia, berbagai negara di kawasan Asia Pasifik turut serta meramaikan kegiatan tersebut, seperti Amerika Serikat, Kroasia, India, Iran, Selandia Baru, Jerman, Perancis, Portugal, Rusia, Mesir, dan Tiongkok sebagai tuan rumahnya.

Delegasi Indonesia menggelar dua kali pertunjukan di arena terbuka dan sekali di dalam gedung teater. Salah satu delegasi Indonesia, yaitu Sanggar Paripurna, Bali, di bawah pimpinan I Made Sidia membawakan pertunjukanwayang listrik yang menggunakan alur cerita yang menawan dan tampilan teknologi multimedia artistik yang inovatif dengan lakon Yudistira menjadi Raja (Sesaji Raja Suya).

Sekretaris Jenderal UNIMA Internasional, Acques Trudeau dan Ketua Executive Committee UNIMA Internasional, Karen Smith yang menyaksikan langsung pertunjukkan wayang listrik dengan lakon Yudistira menjadi Raja (Sesaji Raja Suya) menyampaikan kekaguman dan apresiasi mereka terhadap para seniman dan seniwati pertunjukan wayang listrik tersebut. Pertunjukan tersebut berhasil memperoleh penghargaan The Best Drama Award. Pertunjukan tersebut berhasil memperoleh penghargaan The Best Drama Award.

Selain itu, delegasi Indonesia yang diwakili oleh penasehat UNIMA Indonesia, Nurrachman Oerip juga berbagi cerita bagaimana nilai-nilai agama disampaikan secara damai dengan menggunakan pendekatan budaya, salah satunya dengan menggunakan wayang.

Wayang merupakan salah satu kesenian tradisional Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Selain karena merupakan mahakarya yang memiliki keunikan tersendiri, wayang juga mengandung nilai-nilai keluhuran dan kearifan lokal Indonesia yang khas. Sangat sayang apabila kesenian luhur ini harus luntur dan dilupakan karena generasi muda tidak memiliki ketertarikan terhadap wayang.

Dukungan BCA kepada delegasi UNIMA Indonesia dalam kegiatan Asia Pacific International Puppet and Shadow Art Week ini merupakan bentuk komitmen dalam pelestarian kesenian tradisional wayang. Selain itu bentuk dukungan ini sejalan dengan program Bakti BCA di bidang kebudayaan yang telah mendukung pelestarian wayang sejak tahun 2012 lalu.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kelestarian kesenian tradisional wayang, sebelumnya BCA juga telah ikut berpartisipasi dalam Bali Puppetry Festival & Seminar yang menghadirkan wayang dari berbagainegara dan Wayang World Puppet Carnival 2013 yang bertaraf Internasional. Konsistensi BCA dalam mendukung kesenian ini juga ditunjukkan BCA dengan dukungannya terhadap pertunjukkan berbagai pertunjukan wayang di tanah air. (http://www.tribunnews.com/beritabca/2014/07/14/bca-dukung-unima-dalam-asia-pacific-international-puppet-and-shadow-art-week)