The Book Of Shadows

book-of-shadows-title-alt

Presented by Brown’s Mart Productions & The Cicada Collective in association with SANGGAR PARIPURNA

Directors of Puppetry – Conor Fox and I Made Sidia (Indonesia)

Starring: Tom Pauling, Kadek Hobman, Tony Rive & Ciella Williams

The Book of Shadows, is a unique blend of mixed media theatre performance incorporating live actors, shadow puppetry and video projections to create a series of stories, interpreting myths, legends, folk tales and the art of storytelling from different cultures around the world.

The plot opens with two weary travellers seeking shelter in a remote cave. Emerging shadows begin to magically appear on the cave wall, depicting various ‘chapters’ of a mysterious book. Magic, illusion, shadow and light, Book of Shadows explores the multi-faceted dreamscape of our imagination and beyond.

ARTISTIC TEAM

The Book of Shadows has been produced by the Cicada Collective, a newly formed artist collective that combines the skills and talents of a range of artists, filmmakers, animators, puppeteers and musicians from across Darwin.

The show is written and directed by award winning filmmaker and video artist Timothy Parish who brings a cinematic sensibility to the work, with the additions of animation and motion graphics that compliment the live puppetry.

To create the complex puppetry sequences Parish enlisted Conor Fox, a Darwin born artist who has worked across Australia and throughout the Northern Territory teaching and performing puppetry as the Australian Director of Puppetry. Parish and Fox have been working in collaboration Balinese artists from performing arts school Sanggar Paripurna in Bali, headed by the world renowned dalang (shadow puppet master) Made Sidia and his team who bring their experience and skills to realise the ambitious multimedia performance that utilises animation, video art and live puppetry.

The performance also boasts intricate cinematic sound design by award winning musician Lulu Madill (aka local songstress Syren) and a stunning set created by Darwin architect and sculptor Bec Adams.

http://bookofshadows.org/

Epos Ramayana dalam Pementasan Wayang Listrik

140723_wayang_listrik_2-680x453

Pada 20 Juli 2014 lalu, bertempat di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, diselenggarakan pertunjukan wayang listrik yang dipentaskan oleh Sanggar Paripurna. GIK mempunyai komitmen untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia ke khalayak umum, khususnya generasi muda Indonesia, dengan mendukung–salah satunya–pertunjukan wayang listrik tersebut.

Kali ini Sanggar Paripurna dikelola oleh I Made  Sidia yang dikenal sebagai seniman wayang dan kareografer asal Gianyar Bali, menampilkan lakon dari penggalan epos Ramayana yaitu kisah “Penculikan Dewi Sita”.

Pementasan ini diawali dengan kisah Sri Rama meninggalkan negeri Ayodya untuk mengasingkan diri ke hutan bersama istrinya Sita dan ditemani oleh para pembantu setianya untuk mencari kedamaian serta menghindari adanya perpecahan dan perang  di negerinya.

Lalu selanjutnya bersama pembantu setianya Rama tinggal di hutan, serta dalam kesehariannya Rama menyusuri pelosok hutan tersebut  dan menyaksikan begitu indahnya hutan, yaitu adanya berbagai macam pepohonan nan asri dan menyejukkan jiwa, yang ditinggali berbagai jenis hewan di hutan tersebut, sehingga Rama merasakan kedamaian dan menjadi betah tinggal di hutan tersebut.

Keberadaan Rama dan Sita di hutan tersebut diketahui oleh para pembesar negeri Alengka sehingga mengundang keinginan rajanya, Rahmana, untuk merebut dan menculik Sita. Rahmana yang terbuai dengan kecantikan Sita, mencari cara untuk merebut Sita dari tangan Rama. Untuk melaksanakan hal tersebut, dia memerintahkan Maha Patihnya berubah menjadi seekor kijang emas untuk menarik perhatian Sita.

Seperti yang diniatkan, kijang emas itu berhasil memancing keingintahuan Sita. Ia bahkan berniat memeliharanya. Rama pun rela menangkap hewan tersebut untuk membahagiakan istrinya. Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Rahmana untuk menculik Sita. Dengan kembali mengubah dirinya menjadi kakek tua untuk menimbulkan rasa iba, Rahmana berhasil mengelabui Sita dan memboyongnya ke Alengka.

Ketika pencarian kijang emas sedang dilakukan oleh Rama, Rama mengetahui Sita telah diculik oleh Rahmana. Dia pun memerintahkan para pembantunya untuk mencari istrinya ke Alengka. Menariknya, dalam pementasan tersebut dibumbui oleh kisah pencarian Sita melewati sebuah kota metropolis yang modern serta sudah dipenuhi hutan beton, macet, kotor, dan orang-orang tidak baik. Hal ini memberikan pesan bahwa hutan yang ditinggali Rama lebih baik karena tetap menjaga kelestarian alam dan kebaikan sikap penghuninya.

Di sisi lain, dikisahkan pula keinginan Rahmana untuk memotong sebagian besar pepohonan di negerinya untuk dijadikan tisu toilet agar bisa mendapat keuntungan besar dari industri tersebut. Akibat ulahnya tersebut, kelestarian alam menjadi terganggu.

Singkat cerita, para pembantu Rama bisa menemukan Sita. Lalu Rama pun menuju Alengka untuk menyelamatkan Sita serta memberi pelajaran pada Rahmana atas berbagai sikap buruknya tersebut. Kisah pun mencapai puncaknya saat mereka bertarung hingga Rama, melalui kesaktiannya yang mandraguna, berhasil mengalahkan Rahwana dan kembali hidup bersama Sita di hutan.

Pementasan wayang listrik ini tidak hanya disertai dengan cerita yang penuh pesan moral mendalam khas cerita pewayangan tradisional, namun juga disusupi oleh kisah perjalanan pembantu Rama dan ulah Rahmana melakukan industrilisasi dengan memberangus hutan. Tersisip pesan untuk tetap dapat menjaga kelestarian alam dan jangan terbawa nafsu untuk keuntungan sesaat.

Seperti yang disampaikan oleh I Made Sidia setelah pementasan, pementasan wayang listrik tetap berkomitmen menyampaikan cerita pewayangan tradisional yang sarat pesan moral. Yang membedakannya dengan pementasan wayang lainnya adalah penggunaan peralatan listrik, yaitu efek digital dan variasi pencahayaan yang unik.

Pementasan wayang listrik ini disaksikan oleh penonton dari dalam maupun luar negeri. Penonton sendiri didominasi oleh generasi muda. Apresiasi positif berupa tertawa membahana pada penutupan pementasan di Galeri Indonesia Kaya tersebut. Hal ini merupakan angin segar dalam pementasan wayang sehingga ke depannya diharapkan subsektor seni pertunjukan menjadi berkembang lebih baik lagi di Indonesia. http://news.indonesiakreatif.net/wayang-listrik/